Buku: “curriculum development in vocational and technical education : Planning, Content, and Implementation ” karya Curtis R. Finch dan John R.


download 86.07 Kb.
jenengBuku: “curriculum development in vocational and technical education : Planning, Content, and Implementation ” karya Curtis R. Finch dan John R.
Kaca1/3
KoleksiBuku
g.kabeh-ngerti.com > Sastra > Buku
  1   2   3
BAB I

PENDAHULUAN

Buku: “CURRICULUM DEVELOPMENT IN VOCATIONAL and TECHNICAL EDUCATION : Planning, Content, and Implementation ” karya Curtis R.Finch dan John R.Crunkilton , terbitan Allyn and Bacon Inc pada tahun 1984, terdiri dari 12 Bab dengan jumlah halaman 352 halaman. Secara umum buku ini terdiri dari empat bagian yaitu :

  1. Curriculum Development in Perspective ( terdiri dari 2 bab)

  2. Planning The Curriculum (terdiri dari 3 bab)

  3. Establishing Curriculum Content ( terdiri dari 3 bab )

  4. Implementing Curriculum (terdiri dari 4 bab)

Mengingat jumlah bab yang relatif banyak dan keterbatasan penulis, maka laporan buku ini dibatasi pada topik pertama dan kedua yang terdiri dari 6 bab dengan pokok-pokok bahasan yang berkaitan dengan:

  1. Curriculum Development in Perspective ; terdiri dari 2 bab yang membahas tentang ; a) Perspektif sejarah Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, pandangan terkini tentang pendidikan, serta karakteristik kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan; b) Beberapa model desain kurikulum pada pendidikan teknologi dan kejuruan.

  2. Planning the Curriculum; terdiri dari 3 bab yang membahas tentang: a) Pengambilan keputusan dalam perencanaan kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan, b) Pengumpulan informasi yang berkaitan dengan sekolah, serta c) Pengumpulan informasi yang berkaitan dengan masyarakat.

  3. Pada bagian ketiga tentang Establishing curriculum development, penulis hanya membahas 1 bab yaitu tentang pendekatan yang digunakan dalam penetapan isi kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan.

Secara detail, identitas pengarang buku ini tidak dipaparkan, namun nama Curtis R.Finch dan John R.Crunkilton ditampilkan pada sampul buku sebagai seorang dosen pada Virginia Polytechnic Institute and State University.

Buku ini , oleh pengarangnya dibuat dengan maksud untuk mengisi kekosongan akan literatur yang berkaitan dengan pendidikan teknologi dan kejuruan.Secara umum isi buku ini difokuskan pada pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan ditinjau dari perspektif “umum”. Berbagai prinsip dan strategi dasar-dasar pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan dihadirkan dalam buku ini. Secara gamblang, pengarang buku ini menjelaskan tentang karakteristik khas dari pendidikan teknologi kejuruan yang akan sangat berpengaruh terhadap proses perencanaan dan pengembangan kurikulum.

Dalam buku ini proses pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi kejuruan dibahas dengan cukup lengkap, mulai dari proses perencanaan, penentuan isi kurikulum, dan implementasinya. Pengarang buku selalu mencoba membahas bagian-bagian tersebut dikaitkan dengan karakteritik dan asumsi yang mendasari hadirnya pendidikan teknologi dan kejuruan. Pertimbangan ini cukup beralasan, mengingat ada perbedaan yang cukup mendasar antara pendidikan umum dan pendidikan teknologi dan kejuruan. Buku ini memberikan gambaran yang cukup komprehensif tentang pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan yang terdiri cakupan yang sangat penting, diantaranya : dimensi kurikulum, model desain kurikulum, sistem pengembangan kurikulum, strategi pengambilan keputusan dalam perencanaan kurikulum, penetapan isi kurikulum, serta implementasi kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan.

Deskripsi dan pembahasan yang akan diuraikan pada laporan buku ini berpedoman pada rumusan masalah berikut:

  1. Bagaimana tinjauan perspektif sejarah pendidikan teknologi dan kejuruan ?

  2. Apa konsep dasar kurikulum ?

  3. Apa saja karakteristik- karakteristik kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan

  4. Bagaimana model desain kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan ?

  5. Bagaimana strategi pengambilan keputusan dalam perencanaan kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan ?

  6. Apa saja informasi yang dari sekolah dan masyarakat yang diperlukan untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan kurikulum ?

  7. Bagaimana strategi penetapan isi kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan ?

Masalah pokok tersebut diusahakan dapat menggambarkan prinsip-prinsip dan landasan-landasan yang menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan. Pemaparan deskripsi dan pembahasan tersebut berkaitan dengan: 1) Karakteristik kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan, 2) Model desain kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan, 3) Pengambilan keputusan dalam perencanaan kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan, serta 4) Strategi penetapan isi kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan ; akan mempertajam isi dari laporan buku ini.

Buku ini tentu saja akan banyak memberikan manfaat, bagi yang mendalami bidang kurikulum, khususnya kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan. Buku ini dapat dijadikan sebagai sumber acuan dalam melakukan studi secara profesional tentang pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan. Selain itu, buku ini memberikan arahan kepada para praktisi dalam bidang kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan untuk mencermati persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan, sehingga mampu memberikan gambaran yang komprehensif untuk berbagai tahapan pengembangan kurikulum , mulai dari perencanaan kurikulum, penentuan isi kurikulum, serta implementasi kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan.
BAB II

DESKRIPSI ISI BUKU
Pengembangan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yang dibahas pada buku ini melalui tiga tahapan utama yaitu proses perencanaan kurikulum , penetapan isi kurikulum, dan implementasi kurikulum. Sebelum membahas masing-masing tahapan tersebut, buku ini terlebih dahulu membahas tentang perspektif historis pendidikan teknologi kejuruan. Perkembangan pendidikan kontemporer, serta yang terpenting adalah karakteristik pendidikan teknologi dan kejuruan yang mendasari ketiga tahapan pengembangan kurikulum di pendidikan teknologi kejuruan.

  1. Perspektif Pengembangan Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan



1. Perspektif Sejarah

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam mengembangkan kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan salah satunya adalah pengaruh ”sejarah”. Sejarah memiliki pesan penting untuk memberikan informasi peristiwa dulu dan menyediakan perspektif yang bermakna bagi para pengembang kurikulum. Dilihat dari perspektif sejarah, usaha perencanaan dan pengembangan kurikulum sudah dimulai pada masa Mesir kuno sekitar 2000 tahun SM. Program-program magang yang terorganisir (apprenticeship) dengan cara mempelajari suatu keterampilan tertentu dari seseorang yang sudah dipandang ahli yang berpengalaman menjadi ciri khas pendidikan pada saat itu. Di lain pihak, pendidikan pada saat itu, mencakup belajar kemampuan dasar menulis dan membaca karya sastra . Ini tercatat dalam sejarah sebagai usaha awal penggabungan antara belajar di kelas untuk kemampuan-kemampuan dasar dan belajar langsung di tempat kerja untuk hal-hal yang bersifat keterampilan terapan dengan penekanan pada metode menirukan cara bekerja para ahli yang sudah mapan dalam pekerjaannya. Cara ini sempat menyebar ke berbagai bagian dunia lain sampai sekitar abad ke-19.

Sebenarnya ada pula usaha-usaha lain yang mencoba memberi alternatif selain program magang, baik yang berupa pemikiran maupun tindakan nyata berupa pendirian lembaga-lembaga pendidikan yang sudah bersifat agak formal. Pemikiran-pemikiran kependidikan yang dipelopori oleh para ahli filsafat seperti John Locke, Comenius, Pestalozzi, dan Rousseau memberi inspirasi kuat terhadap bentuk-bentuk persekolahan kuno yang mulai meninggalkan praktek magang dan beralih ke bentuk yang lebih formal dengan memasukkan aspek pendidikan mental seperti filsafat dan logika serta pendidikan kesenian.Ketika revolusi industri pecah di awal abad ke-19 , terjadi permintaan tenaga terlatih yang murah dalam jumlah yang sangat besar sehingga tidak mungkin lagi terpenuhi dari sistem pendidikan magang yang biasanya memerlukan waktu yang lama dan biaya relatif mahal.

Sejak saat itulah, kemudian muncul banyak pemikiran-pemikiran untuk mengusahakan perencanaan dan pengembangan kurikulum sekolah secara sistematis, termasuk salah satunya adalah pemikiran Victor Della Vos yang mengawali adanya pemikiran yang sistematis dalam pengembangan kurikulum pada pendidikan teknologi dan kejuruan. Della yang merupakan direktur dari ”the imperial Technical School of Moscow”, pada tahun 1876 di Philadelphia Centennia Exposition” mengemukakan pendekatan baru dalam pembelajaran teknik, sehingga pada saat itu Della menjadi katalis untuk pendidikan teknik di Amerika Serikat (lannie 1971). Pada saat itu Della terkenal dengan 4 asumsi yang berkaitan dengan pengajaran dalam bidang mekanik, yaitu : (a) pendidikan ditempuh dalam waktu yang sesingkat mungkin (in short education); (b) selalu diupayakan suatu cara untuk memberikan pengajaran yang cukup untuk jumlah siswa yang banyak dalam satu waktu; (c) dengan metode yang akan memberikan pelajaran praktek di bengkel dengan pemenuhan pengetahuan yang mencukupi, dan (d) sehingga memungkinkan guru dapat menetapkan perkembangan siswa setiap waktu.


  1. Konsep Dasar Kurikulum

Finch & Crunkilton (1984: 9), mengemukakan definisi kurikulum sebagai .... as the sum of the learning activities and experiences that a student has under the auspices or direction of the school” Dari definisi tersebut paling tidak ada dua point yang harus diperhatikan, yaitu bahwa fokus utama kurikulum adalah siswa dan yang kedua bahwa bagian dari kurikulum tidak hanya mata pelajaran akan tetapi semua aktivitas (olah raga, klub, kegiatan kokurikuler) memiliki pengaruh yang signifikan untuk pembentukan individu siswa yang total dan untuk mencapai efektivitas dari kurikulum .
3. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

Pendidikan Teknologi dan Kejuruan merupakan sistem yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan secara menyeluruh. Meskipun demikian, kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan memiliki karakteristik dan kekhususan tersendiri yang membedakannya dengan sub sistem pendidikan yang lain. Perbedaan ini tidak hanya dalam definisi, struktur organisasi, dan tujuan pendidikannya saja, tetapi terlihat dari aspek lainnya yang berkaitan dengan aspek perencanaan kurikulum. Karakteristik – karakteristik dasar dari kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan yaitu :
a. Orientasi

Keberhasilan utama dari kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan, bukan saja diukur dari pencapaian hasil belajar berupa kelulusan, tetapi pada kemampuan para lulusan kelak di dunia kerja. Asumsi tersebut dilandasi oleh pemikiran bahwa sifat pendidikan kejuruan yang merupakan pendidikan untuk penyiapan tenaga kerja, maka dengan sendirinya orientasi pendidikan kejuruan tertuju pada output atau lulusan.

b. Justifikasi

Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan didasarkan pada identifikasi kebutuhan berbagai jenis pekerjaan yang ada di lapangan. Inilah yang menjadi alasan mengapa pendidikan teknologi dan kejuruan perlu ”diselenggarakan”. Justifikasi / alasan keberadaan pendidikan teknologi dan kejuruan didasari oleh asumsi adanya kebutuhan tenaga kerja di lapangan. Oleh karena itu, yang dimaksud justifikasi di sini adalah justifikasi untuk eksistensi. Pendidikan teknologi kejuruan ”tidak layak ada” jika di lapangan tidak dibutuhkan tenaga kerja yang akan dididik di sekolah tersebut.
c. Fokus

Fokus kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan tidak hanya pada aspek skill / psikomotorik seperti yang dipahami sebagian masyarakat, akan tetapi kurikulum membantu siswa untuk mengembangkan diri dalam seluruh aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang tujuan akhirnya untuk memberikan kontribusi untuk keberhasilan sebagai ”pekerja” atau dengan kata lain siswa dididik untuk memiliki kemampuan yang komprehensif dan simultan sehingga mampu menjadi pekerja yang ”produktif”. Mengembangkan salah aspek saja bertentangan dengan hakikat anak didik sebagai suatu totalitas pribadi.
d. Kriteria Keberhasilan di Sekolah dan Luar Sekolah (Dual Criteria)

Berlainan dengan pendidikan umum, kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya menerapkan ukuran ganda, yaitu keberhasilan siswa di sekolah (in-school success) dan keberhasilan di luar sekolah (out-of-school success). Kriteria yang pertama meliputi aspek keberhasilan siswa dalam menempuh proses pembelajaran di kelas, sedang kriteria keberhasilan yang kedua diindikasikan oleh keberhasilan performance lulusan setelah berada di dunia kerja.
e. Hubungan antara Sekolah –Masyarakat dan Keterlibatan Pemerintah

Hubungan antara sekolah dan masyarakat lebih khususnya dengan dunia industri merupakan karakteristik yang sangat penting dalam konteks pendidikan teknologi dan kejuruan. Peran masyarakat dan pemerintah dalam hal ini sama pentingnya. Masyarakat dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pendidikan teknologi dan kejuruan. Perwujudan hubungan timbal balik yang menunjang ini mencakup adanya dewan penasehat kurikulum kejuruan (curriculum advisory committee), kesediaan dunia usaha menampung siswa pendidikan teknologi dan kejuruan dalam program kerjasama yang memungkinkan kesempatan pengalaman lapangan, informasi kecenderungan ketenagakerjaan yang selalu dijabarkan ke dalam perencanaan dan implementasi program pendidikan.
f. Kepekaan

Kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan memiliki karakteristik lain yaitu kepekaan atau daya suai yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya, hal ini dimungkinkan karena komitmen pendidikan teknologi dan kejuruan yang tinggi untuk selalu berorientasi kepada dunia kerja. Perkembangan ilmu dan teknologi, pasang surutnya suatu bidang pekerjaan, inovasi dan penemuan-penemuan terbaru dalam bidang produksi dan jasa, semuanya itu sangat besar pengaruhnya terhadap kecenderungan pendidikan teknologi dan kejuruan. Tidak terkecuali adalah mobilitas kerja baik vertikal maupun horisontal sebagai akibat perkembangan sosial kemasyarakatan yang semuanya harus diantisipasi secara cermat guna menjamin relevansi yang tinggi antara isi pendidikan teknologi dan kejuruan dan kebutuhan dunia kerja.
g. Logistik/ Sarana Prasarana dan Pembiayaan

Dalam implementasi kurikulum di pendidikan teknologi dan kejuruan , ketersediaan sarana prasarana merupakan sesuatu yang sangat penting. Kelengkapan sarana prasarana akan dapat membantu mewujudkan situasi atau pengalaman belajar yang dapat mencerminkan situasi dunia kerja secara lebih realistis dan edukatif. Bengkel dan laboratorium adalah kelengkapan yang umum menyertai keberadaan / eksistensi pendidikan teknologi dan kejuruan, selain pengalaman lapangan yang biasanya tercantum dalam kerangka kurikulumnya. Dalam konteks ini, sering dipertanyakan apakah investasi yang besar di pendidikan teknologi dan kejuruan cukup efisien dibandingkan dengan hasilnya.


  1. Model Pengembangan Kurikulum

1. Model Desain Pengembangan Kurikulum di Pendidikan Teknologi Kejuruan

Gay dalam Finch (1984) mengemukakan ada empat model desain dalam proses perencanaan kurikulum yaitu academic model, experiential model, pragmatic model, dan technical model.

  1. Academic Model / Theoretical Model : Model akademik memanfaatkan logika ilmiah sebagai basis dalam penetapan kurikulum. Kurikulum dikembangkan berdasarkan pendekatan struktur yang sesuai dengan disiplin ilmu atau disiplin ilmu untuk membentuk isi kurikulum. Model ini cocok untuk para calon-calon profesional dalam suatu bidang tertentu.

  2. Experiential Model : berorientasi pada ”learned centered and activity-oriented” person and process oriented. Model ini cocok untuk pengembangan individu/guru

  3. Pragmatic Model : memandang perencanaan kurikulum selalu dikaitkan dengan konteks lokal/ daerah. Kondisi sosial –politik mendominasi kegiatan perencanaan kurikulum, dimana proses perencanaan kurikulum harus disesuaikan dengan kondisi lokal tidak boleh keluar dari ”school setting”. Model ini cocok relevan untuk diterapkan dalam konteks pelatihan bisnis atau industri

  4. Technical Model : dalam model ini pembelajaran dipandang sebagai suatu ”sistem”. ”Sistem” dapat dipahami terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan. Sebuah sistem akan efektif dan efisien apabila dikontrol dengan manajemen yang bagus. Dalam model ini, komponen-komponen seperti analisis kebutuhan, perumusan tujuan yang spesifik, pemilihan materi, metode, dan penetapan evaluasi merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Model ini cocok diterapkan untuk proses belajar mengajar dalam pendidikan teknologi dan kejuruan .

  1   2   3

Share ing jaringan sosial


Similar:

Vocational Education and Training

Buku adalah karya tulis dan/atau karya gambar sebagai kumpulan kertas...

Mime-version: 0 Content-Location: file:///C:/E8BB70F2/teoriasociologicamoderna-georgeritzer...
Socie parsons y Ger bros de la Juni Harvard Unive adapt= ada de 1 pectives. © 191 River, N. J. R merton. Utiliza

World Geography Study Guide for S. O. L. from Curriculum Framework....

Buku Pedoman Karya Tulis Ilmiah Prodi Keperawatan Lubuklinggau Poltekkes...

The mission for First Baptist Academy is to educate students for...

John Lewin Gillin dan John Phillip Gillin

Buku pegangan siswa (1) Penerbit Erlangga Karya Sadiman, S. Pd

Buku pegangan siswa (1) Penerbit Erlangga Karya Sadiman, S. Pd

Buku pegangan siswa (1) Penerbit Erlangga Karya Sadiman, S. Pd

Geografi


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
g.kabeh-ngerti.com
.. Home