Pedoman Komprehenship dalam Menyikapi


download 134.97 Kb.
jenengPedoman Komprehenship dalam Menyikapi
Kaca1/3
KoleksiPedoman
g.kabeh-ngerti.com > Astronomi > Pedoman
  1   2   3

Pedoman Komprehenship dalam Menyikapi

Prosesi Ritual Maulid Nabi

Segala puji bagi Allah yang telah memberi atribut special “Tuan Besar” berskala universal pada Nabi Muhammad SAW, Beliau adalah junjungan semesa alam secara mutaq tanpa debat. Allah telah memilih beliau melalui seleksi massal hati hamba-hamba-Nya, kemudian Allah mengutus beliau dengan dibekali berbagai etika-etika ideal serta argumen-argumen rasional untuk menyempurnakan moral-moral umatnya di segenap penjuru dunia.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah sang Maha Raja, maha Benar, serta maha menjelaskan apa yang kurang jelas. Juga aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengaplikasikan janji-janji Allah ke alam realita.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi yang telah Engkau (Allah) beri identitas khusus dalam al-Qur’an:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْم (القلم: 4).

dan telah Engkau intruksikan umatnya untuk mengagungkannya. Dalam firman-Mu:

                      

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu Berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.”

juga kepada keluarga-keluarga beliau yang disucikan serta sahabat-sahabat yang gigih membela agama.

Amma Ba’du:

Berkata orang yang tak punya daya uapaya, hamba Allah yang selalu menjadi tawanan dosa-dosa, pelayan ilmu dan para pelajar di tanah haram di Masjidil Haram, yaitu; Muhammad Ali bin Husain al-Maliki al-Makki, -semoga Allah mengasihi beliau, kedua orang tua, guru-guru, serta saudara muslim beliau sampai hari kiamat.

Ini (tulisan) adalah mata air segar dalam menyikapi berkumpulnya umat Islam membaca biografi dan kelahiran Nabi Muhammad serta tradisi berdiri, dan kuberi judul:

الهدي التام في موارد المولد النبويّ وما اعتيد فيه من القيام

dan aku susun mulai muqaddimah, lalu diiringi tiga bab dan terakhir penutup.

Aku memohon kepada Allah agar menjadikanna amal sholeh yang diterima, diridloi dan mendapatkan khusnul khatimah. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas apa saja, dan dalam mengabulkan permintaan adalah Dzat yang paling berkah.
MUQODDIMAH

Syekh Yusuf as-Syalabi berkata dalam: الرسالة التامة فيما اضطربت فيه العامة : ‘Ketahuilah, bahwa bid’ah menurut lughat adalah: segala sesuatu yang dilakukan tanpa contoh’.

Abu ‘Ubaidah berkata: “Bid’ah adalah; perkara baru. Sedangkan menurut syara’ adalah: perkara baru yang belum pernah dilakukan pada zaman Rasulullah saw. dan tidak ada dalil Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Juga tidak ada ketergantungan suatu perintah, karena apa yang menjadi ketergantungan suatu perintah dihukumi perintah dari dalilnya.

Tidak Semua Bid’ah Haram

Karena jika demikian adanya, maka apa yang dilakukan Ubay, Umar dan Zaid dalam usaha mengumpulkan dan menulis mushaf lantaran khawatir kocar kacir tak terpelihara dan akhirnya hilang dengan sebab wafatnya para sahabat (Qurro’) dihukumi haram juga. Begitu pula gagasan Umar melaksanakan sholat Tarawih pada malam-malam Ramadlan serta ungkapan beliau: نعمة البدعة هذه (bagus sekali bid’ah ini), juga komentar Ali: نوّر الله قبر عمر، فقد نوّر مساجدنا (semoga Allah senantiasa menerangi kubur Umar, karena beliau telah meramaikan masjid-masjid kami) dengan sholat Tarawih, demikian pula produk-produk karangan dari berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat, kewajiban memerangi orang-orang kafir dengan tombak, pedang dan panah di kala mereka menggunakan senjata peluru-peluru panas dan bom, adzan di atas menara, membangun madrasah-madrasah dan pondok-pondok yang semuanya mempunyai kontribusi besar dalam menjaga syari’at dan tak dijumpai pada masa Nabi.

Adapun hadits: كل بدعة ضلالة (setiap bid’ah adalah sesat), menurut komentar pengarang al-Azhar dan ulama-ulama besar lainnya adalah berstatus ‘am makhshush (umum yang terfokus) dan yang dikehendaki adalah: setiap bid’ah sayyi-ah, dan yang menjelaskan batasan ini adalah apa yang dilakukan sahabat-sahabat senior dan para tabi’in yang tak ditemui pada masa Rasul seperti penulisan al-Qur’an dan melestarikan shalat Tarawih.

Imam as-Syafi’I berkata: mewujudkan perkara baru dan bertentangan dengan al-Qur’an, Hadits, Ijma’ atau Atsar adalah Bid’ah Dlolaly dan bila tidak bertentangan disebut Bid’ah Mahmudah (terpuji).

‘Izzuddin bin Abdis Salam, Imam an-Nawawi dll. berkata: Bid’ah terkadang Wajib, seperti; mengarang berbagai disiplin ilmu dan mengajarkan nahwu, mengCounter kelompok-kelompok sesat, menjaga dan melestarikan syari’at. Ada juga yang Sunnah, seperti; membuat pondok dan madrasah, adzan di atas menara dan berbagai kebajikan yang tak ditemui pada kurun-kurun awal. Ada juga yang Makruh, seperti; menghias masjid-masjid dan mushaf. Ada juga yang Mubah, seperti; bersalaman setelah shalat Subuh dan Ashar, pola hidup mewah yang mencakup rumah, makanan dan minuman. Ada pula yang Haram, yaitu: apa saja yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits serta dalil-dalil syar’I lainnya, dan inilah yang dikehendaki dalam hadits: Kullu Bi’datin Dlolalah.

Ibnul Atsir berkata: Bid’ah ada dua, yaitu: Bid’ah Huda dan Dholalah. Kemudian beliau mendefinisikan bid’ah dholalah, yaitu: bid’ah yang bertentangan dengan Kitab dan Sunnah, juga dalil-dalil syar’I lainnya dan tidak ditemui pada zaman dahulu. Sedangkan bid’ah Huda yang terpuji adalah: apa saja yang termasuk dalam keuniversal­an perintah-perintah Allah dan RasulNya, atau memang tidak bertentangan dan tak ditemui pada kurun-kurun sebelumnya, seperti pola hidup dermawan dengan model yang tidak ditemui pada kurun-kurun awal.

Kemudian beliau berkomentar: bahwa tidak boleh mengi’tiqodkan bahwa Bid’atul Huda adalah sesat, bertentangan dengan syara’, karena syara’ telah menyebutnya dengan istilah “Sunnah” dan bagi pelakunya mendapatkan pahala. Nabi bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ.

Artinya: Barang siapa yang melakukan tindakan kebaikan (hal baru) dalam Islam, lalu di hari kemudian di amalkan oleh generasi selanjutnya, maka dia akan mendapatkan pahala plus pahala-pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka (generasi sesudahnya).

Adapun hadits Nabi: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (Barang siapa yang membuat hal baru yang tidak termasuk ajaranku, maka amalnya tidak diterima). Menurut beliau para ulama telah membatasi Laisa Minhu (apa yang tidak termasuk ajaran Rasul) dengan apa yang bertentangan dengan syara’, dan tidak ada penguat kaidah-kaidah syara’ lainnya, maka perilaku yang bertentangan dengan syara’ itulah yang ditolak, seperti ibadah dengan mengabaikan syarat-syarat dan hukumnya, misalnya shalat tanpa wudlu atau tanpa ruku’ dan sujud, juga seperti akad-akad fasid semisal jual beli barang-barang yang dilarang.

Ibnu Hajar menandaskan bahwa apa saja yang tidak bertentangan dengan syara’, maka tidak ditolak, seperti berbagai tindak kebajikan yang tidak ditemui pada kurun-kurun awal, dan beliau mencontohkan hasil-hasil karangan dari berbagai disiplin ilmu, kemudian beliau berkata: “Semua itu dan apa saja yang menyerupainya sangat jelas manfaatnya dan disambut hangat kehadirannya oleh masyarakat dunia, dan tentu pencetusnya mendapat pahala.

Imam Abu Syaamah (guru Imam an-Nawawi) juga berkata: termasuk kategori Bid’ah Hasanah adalah merayakan hari kelahiran Nabi setiap tahun dengan bershodaqoh dan berbuat berbagai kebajikan lainnya serta menyambut gembira datangnya Maulid Nabi. Semua itu mencerminkan mahabbah, ta’dhim kepada Nabi Muhammad saw di hati para pelakunya, sekaligus mensyukuri ni’mat Allah yang besar ini. Jadi, bid’ah yang tercela adalah yang bertentangan dengan syara’, seperti ibadah-ibadah fasid, semisal meyakini wajibnya inkar terhadap perilaku-perilaku sunnah seperti membaca surat al-Kahfi dalam masjid, juga seperti inkar yang ber-konsekuensi terjadinya saling benci, hasud dan permusuhan antara umat Islam yang merupakan tindakan paling tercela dibanding melakukan larangan-larangan syara’. Juga seperti masa bodoh terhadap tindakan-tindakan haram yang mujma’ ‘alaih, ingkar berlebihan terhadap apa yang masuk kategori sunnah atau makruh, sampai terjadinya pengumpatan dan permusuhan yang akhirnya mengakibatkan kerusakan materi, melukai bahkan membunuh. Demikianlah komentar syekh Yusuf as-Syalabi.

BAGIAN I

Ketahuilah, - semoga Allah selalu menyinari hatiku dan hatimu dan melipatgandakan rasa cintaku dan cintamu kepada Rasulullah, - bahwa motif mengarang kisah kelakuan Nabi, sifat-sifat dan mu’jizat-mu’jizat beliau yang diambil dari kitab-kitab Siiroh (biografi Nabi) adalah seperti motif para pengarang-pengarang siiroh Nabi itu sendiri yang merupakan asal pengambilan kitab-kitab kisah maulid. Motif para pengarang Siiroh Nabi bukan sekedar mengetahui tanggal lahir sebagai perbincangan dalam perkumpulan-perkumpulan, atau yang lainnya. Tapi motif beliau adalah faedah-faedah lain yang sangat penting, antara lain:

1. Mendekatkan diri pada Rasulullah dan memancing rasa cinta dan ridlo beliau dengan menyebut sifat-sifat terpujinya, dan memang mengumpulkan sifat-sifat Nabi lalu menyebarkannya lebih utama dibanding memuji-muji beliau melalui qosidah-qosidah, dan dulu beliau telah menyambut baik dan meridloi karya orang-orang yang memuji beliau melalui qosidah, seperti Hassan, Abdullah bin Rowahah dan Ka’b bin Zuhair dan beliau telah membalas jasa-jasa mereka ini. Berarti tidak diragukan lagi bahwa beliau akan meridloi siapa saja yang berkompeten mengumpulkan sifat-sifat beliau dan menyebarkannya.

2. Berupaya sebisa mungkin membalas jasa kebaikan-kebaikan beliau pada kita (Ummatul Ijabah), sekaligus menyelamatkan kita dari kesesatan menuju petunjuk Allah.dan tidak diragukan bahwa ini adalah ni’mat paling besar yang tak mungkin terbalas, dan memang tidak akan ada yang mampu membalas jasa ini kecuali Allah.

Karena itulah, Imam as-Syafi’I dalam kitab ar-Risalah dari riwayat muridnya, Robi’ bin Sulaiman berkata: semoga Allah membalaskan jasa Rasulullah kepada kita melebihi balasan umat pada seorang Rasul, karena beliau telah menyelamatkan kita dari kehancuran dan menjadikan kita umat terbaik, memeluk agama yang diridloi dan dipilih para malaikat, dan siapakah (diantara makhluk) yang memberi ni’mat seperti ini? Ni’mat dhohir dan bathin yang kita rasakan yang mengantarkan kita mencapai tujuan dunia atau akhirat atau kita terbebas dari kerusakan dunia dan akhirat atau salah satunya, semua itu penyebab utamanya adalah Muhammad saw yang telah menggiring dan menunjukkan pada kita.

3. Mengetahui sifat-sifat beliau yang mulia akan memotifasi rasa cinta kita pada beliau, karena karakter manusia selalu menyukai sifat-sifat bagus dan sempurna, dan memang tidak ada yang paling bagus dan sempurna kecuali sifat-sifat beliau saw. dan tidak diragukan bahwa siapa saja yang telah melihat sifat-sifat beliau dan kebetulah tidak berperangai sesat, pastilah akan mencintai Rasulullah saw.

Dan seberapakah kadar kecintaan seseorang pada Nabi (tambah atau kurang), sebegitulah tingkat keimanannya, bahkan ridlo Allah, kebahagiaan abadi serta kenikmatan-kenikmatan Ahlul Jannah tergantung pada seberapa tingkat kecintaannya pada Rasulullah. Sebaliknya kebencian Allah, celaka selama-lamanya dan siksa penghuni neraka tergantung pada seberapa tingkat kebenciannya pada Rasulullah.

4. Mengikuti beliau bagi orang yang diberi petunjuk dalam hal-hal yang mungkin, seperti: sifat dermawan beliau, bijaksana, tawadhu’, zuhud dan lain-lain yang termasuk akhlaq dan perilaku-perilaku mulia beliau saw. Itu semua akan memberi spirit rasa cinta kepada Allah swt. Seperti firman Allah:

               

Artinya: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imron: 31).

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mengikuti Rasulullah dalam syari’at dan perilaku beliau yang konsisten, dan mengumpulkan kita kelak di bawah panji orang-orang yang mencintai Rasulullah, seperti dalam kitab: وسائل الوصول إلى شمائل الرسول صلى الله عليه وسلم, milik Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani.

5. Dengan mendengarkan sifat-sifat Nabi (dalam karangan ulama) semoga Allah menetapkan hati kita pada posisi iman yang sempurna (ridlo terhadap apa yang telah ditakdirkan), seperti halnya Rasulullah yang telah ditetapkan hati beliau oleh Allah melalui metode memperdengarkan kisah-kisah Rasul terdahulu dalam al-Qur’an. Firman Allah:

                  

Artinya: Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat Ini Telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Huud: 120).

Bahkan kita lebih membutuhkan penetapan hati kita dengan mendengarkan karakter dan sifat-sifat Rasulullah dibanding Beliau dengan mendengarkan kisah-kisah Rasul terdahulu.

والله سبحانه وتعالى أعلم

BAGIAN II

Sepeti kata Imam Abu Syaamah yang telah kami tuturkan, dalam kitab الفتاوى الحديثيّة karya Ibnu Hajar al-Makky al-Haitamy, beliau ditanya tentang hukum merayakan Maulid dan Dzikir yang dilakukan banyak orang pada zaman sekarang, apakah itu sunnah atau sebuah keutama-an?, kalau dijawab Fadlilah, apakah ada penguat Atsar Ulama Salaf?, atau paling tidak Khobar? Dan apakah berkumpul dalam sebuah bid’ah yang mubah diperbolehkan atau tidak?

Beliau menjawab: bahwa perayaan Maulid dan Dzikir yang dilakukan kebanyakan orang mengandung unsur kebaikan, seperti shodaqoh, membaca dzikir, sholawat sembari memuji Rasulullah, maka hukumnya sunnah, karena termasuk dalam hadits-hadits yang membicarakan dzikir-dzikir secara khusus dan umum, seperti sabda Nabi saw:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَذَكَرَهُمُ الله تَعَالَى فِيْمَنْ عِنْدَهُ. [رواه مسلم].

Artinya: Tidaklah duduk suatu kaum untuk berdzikir kepada Allah, kecuali akan dikerumuni Malaikat dan rohmat Allah, juga akan diturunkan sakinah kepada mereka, dan Allah juga akan mneyebut-nyebut mereka pda hamba-hambaNya yang terdekat.

Diriwayatkan juga bahwa beliau berkata pada kaum yang sedang duduk berdzikir dan mamuji-muji Allah yang telah memberi petunjuk pada mereka untuk memeluk agama Islam.

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ فَأَخْبَرَنِيْ: أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُبَاهِيْ بِكُمُ الْمَلاَئِكَة.

Artinya: Telah datang padaku Malaikat Jibril dan memberi khabar bahwa Allah telah memamerkan kalian kepada Malaikat.

Dua hadits tadi adalah dalil paling transparan atas keutamaan duduk berkumpul dalam kebaikan dan mereka yang duduk di situ juga sama hukumnya, di pamerkan Allah pada malaikatNya, akan dituruni sakinah dan rohmat Allah juga Allah akan memuji mereka di kalangan malaikat.

Sekarang, manakah keutamaan yang lebih besar dari ini?

Sedangkan pertanyaannya adalah: apakah berkumpul untuk suatu bid’ah yang mubah di perbolehkan atau tidak?

Beliau menjawab: Ya, diperbolehkan. Izzuddin bin Abdussalam berkata: Bid’ah adalah: melakukan apa yang tidak ditemui pada kurun Nabi, dan bid’ah terbagi menjadi lima hukum, yaitu; wajib, sunnah, makruh, mubah dan haram. Metode untuk mengetahui masuk kategori yang mana (suatu bid’ah) adalah: melihat pada kaidah-kaidah syara’, mana saja hukum yang masuk dalam bid’ah itu, itulah hukumnya.

Termasuk dalam bid’ah Wajib adalah: mengajar ilmu nahwu untuk memahami al-Qur’an dan Hadits. Haram seperti: aliran pemikiran qodariyah. Kategori Sunnah adalah: membangun madrasah dan ber-kumpul untuk sholat tarawih, kategori Mubah seperti bersalaman setelah shalat, dan kategori Makruh adalah menghiasi masjid-masjid dan mushaf (tanpa emas), kalau dengan emas dihukumi haram.

Sedangkan hadits; كل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار dialamatkan kepada bid’ah yang masuk kategori Haram.

Maka konklusi dan pendapat Abu Syaamah dan Ibnu Hajar dalam kitab فتاوى حديثية adalah: apa yang dilakukan setiap tahun pada hari yang bertepatan dengan lahirnya Nabi saw. berupa shodaqoh, berbuat kebajikan dan berkumpul mendengarkan kisah kelahiran beliau serta dzikir-dzikir adalah bid’ah yang paling bagus. Alasannya;
  1   2   3

Share ing jaringan sosial


Similar:

Pedoman ta ini tentu masih banyak kelemahan, oleh karena itu diharapkan...

B pedoman tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari

Pedoman Teknis ini merupakan pendamping Prosedur Operasi Standar...

Pedoman Teknis ini merupakan pelengkap Prosedur Operasi Standar (pos)...

Guru dalam proses pem­belajaran di kelas dipandang dapat memainkan...

Dalam kehidupan berbagai Negara bangsa di berbagai belahan dunia,...

Pedoman transliterasi II

Pedoman praktis

Pedoman perhitungan

Pedoman No.: 03/YA/2009

Geografi


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
g.kabeh-ngerti.com
.. Home